Skip to content

Potret Zaman – Suket, Memotret Peristiwa Dalam Opini Lagu

Suket adalah rumput.Menurut Yockie Surjoprajogo suket itu bisa tumbuh (liar) dimana-mana.Bisa jadi Yockie tengah berfilosofi dengan Suket, sebuah proyek musik di tahun 1993 yang melibatkan banyak nama seperti Naniel (flute,suara latar),Jalu (kendang,perkusi),Edi Kemput (gitar),Rere (drums),Didiet Shaksana (bass),Ancha Haiz (vokal) .Suket adalah proyek musik Yockie setelah keterlibatannya dalam Kantata Takwa maupun Swami.Dan mau tidak mau penyimak album yang sampulnya didominasi warna hijau lumut ini akan melakukan komparasi dengan kedua proyek musik Yockie bersama Iwan Fals,Sawung Jabo dan Setiawan Djody itu.Seluruh komposisi lagu ditulis oleh Yockie Surjoprajogo, sedang untuk divisi lirik ditulis oleh Naniel Kusnulyakin serta dua wartawan musik Remy Soetansyah dan Fajar Budiman.albumnya Potret Zaman,setifaknya kita bisa mereka-reka kearah mana konsep musiknya bergulir.Dibagian dalam kaset tertera tagline Hati Yang Tulus dan jiwa yang meredeka, hanya itulah semangat danpedomanku semoga dapat kau terima apa adanya .

Suket menebar kesaksian dan memotret sekeliling apa adanya lewat tutur lagu.Simak lirik Potret Zaman :

Kalau kebodohan dianggap kecelakaan

Akan semakin banyak pohon yang tumbang

Wajah wajah letih berjejer di tepi

hanya menanti  .

Suket juga menulis tentang fenomena jalan pintas tanpa mau bekerja dalam lagu Spekulasi :

Oh ambil jalan paling pintas

Membeli harapan yang semu

Bernafsu

susun nomer rejeki

Pada akhirnya Suket adalah seperti kumpulan opini keresahan atas kegalauan sosial yang tumbuh dan muncul dimana-mana disekitar kita.Tracklist

1.Kontradiksi

2.Potret Zaman

3.Nyanyian Urban

4.Renungan

5.Spekulasi

6.Dunia Asmara

7.Doa Pada Cinta

8.Harapan Sang Fajar

9.tangkiwood

10.Oksigen Hitam

Kaset Suket (Foto Denny Sakrie)

Kaset Suket (Foto Denny Sakrie)

Advertisements

Penyanyi Oposisi Itu Bernama Tika

Tika selalu menentang arus.Dia selalu menghardik kelaziman.Itu yang saya tahu sejak menyimak album perdananya dulu dengan tajuk Frozen Love Songs yang kemudian bermetamorfosis menjadi “Defrosted Love Song”.Tika bertikas gelap,muram,galau dan meradang.
Sosok Tika seolah beroposisi dengan gemerlapnya para diva palsu yang mengumbar glamour dan sensasi imitasi.Tapi saya seperti disergah dengan penampilan Tika yang lebih mempanglimakan suara lirik dan dentam musik.
Tika tak ubahnya ikon yang tergurat disampul albumya “The Headles Songstress”…….bidadari tanpa kepala yang menyandang pengeras suara di tangan kanannya.Takwilnya adalah,sesungguhnya suara lebih penting dari wajah nan berpupur kepalsuan.
Lihatlah bagaimana Tika menempatkan lagu diurutan pertama pada lagu yang sama sekali terbebas dari beat bahkan terlepas dari iringan instrumen musik.Simaklah “Tentang Tirani” sebuah lagu dengan lirik yang nyata provoke dengan pola a capella yang mengingatkan saya pada eksplorasi Laurie Anderson di era silam.Di lagu ini Tika seperti ingin membuktikan bahwa suara atau resonansi mulut adalah instrumen musik tertua di dunia yang dipergunakan manusia.

Headless Songstress - Tike & The Dissidents (Foto Denny Sakrie)

Headless Songstress – Tike & The Dissidents (Foto Denny Sakrie)

Eklektika bermusik masih tetap terpancang di album ini.Pertanyaan dungu : apa sih aliran musik Tika ? justeru akan terjawab disaat kuping anda memahami ekspresi musiknya secara arif.Setidaknya disini akan terdengar ragam rentak blues,rock,jazz,march,tango,waltz,klasikal dan entah apalagi.
Begitupula dengan keragaman tema yang ditawarkan dalam lirik Indonesia dan Inggeris.Terdengar sangat provokatif.Tika tak lagi galau atawa gundah tapi dia berani menerjang dan menyergap berbagai isu yang terpampang tiap hari di sudut mata kita.
Ambil contoh lagu “Polpot” dimana Polpot sendiri mungkin merupakan konotasi terhadap sebuah pembantaian tak berperi kemanusiaan.Di lagu yang dikemas dalam tempo tango serta diimbuh tiupan trumpet bernuansa Spanyol,Tika ingin mengungkit perihal pembantaian intelektualitas massal oleh the magic box a.k.a televisi. Sebuah metafora yang cerdas :

Lady drama queen is getting hair and make up
Jerk you off with her tears
And redemption is for sale on channel 9
Heaven on channel 2
Loved into hyper reality

Lalu pandangan stereotipikal masyarakat terhadaphomoseksualitas yang terekam gamblang dalam lagu “Clausmophobia” : hipokrisi.
Tika pun menyindir perihal pola tingkah pseudonomik para selebritis yang dahaga popularitas dalam lagu “Red Red Cabaret” dengan ditingkahi style musik era 1930-an :

Yes,I’m the starring role
You ain’t got nothing on me

Ini masih ditambah lagi dengan lagu bernuansa provokatif “Mayday” yang cenderung ke zona kaum buruh.
Simaklah liriknya yang lugas dan gamblang :

And we are the one who who work their fields
And we are the one who who fight theirwars
And we are the one who who drop their bombs
And we are the one to cut this crap
And we are the one to bring the hell
Labour of the world unite

Tapi Tika tetap pula menyodorkan tema romansa namun dengan pola penulisan lirik yang tak seragam.Idiomnya beda .Simak “Waltz Muram” :

Ku dilanda badai rindu
Oh logika lindungi aku
Beri aku amnesia
Ku tak mau ingat dia.

Sebuah kepedihan cinta yang tak dangkal tentunya.
Menyimak album ini,kita seolah bertualang pada megarnya rimba lirik yang ekspresif serta musik yang beratmosfer jelajah,menelusuri sekat genre yang sarat jurang mengangang di kiri kanan.
Ah,siapa bilang pemusik Indonesia kualitasnya menurun ?

Tracklist

1.Tentang Tirani
2.Polpot
3.Venus Envy
4.20 Hours
5.Uh Ah Lelah
6.Red Red Cabaret
7.Ol’ Dirty Bastard
8.Infidel Castratie
9.Waltz Muram
10.Tentang Perang
11.Mayday
12.Clausmophobia

Leonardo Dalam Musik Bertutur

Judul Album : The Sun
Artis : Leonardo
Label : Demajors
Tahun Rilis : 2010

Bukan.Ini bukan album jazz.Walaupun cover depannya memperlihatakan siluet Leonardo tengah meniup trumpet mirip gaya Miles Davis.Entah kenapa Leonardo memilih pose semacam itu.Ingin gagah-gahan ?.Ah itu sah sah saja.Dan rasanya tak penting kita bahas.Lebih baik kita telaah saja isi albumnya ini.Saya meyakini bahwa mungkin Leonardo ingin membaptis diri sebagai singer/songwriter sebagaimana galibnya Leonard Cohen,Tom Waits atau Bob Dylan.
Mantan vokalis Vessel dan gitaris Zeke & The Popo ini berupaya mengambil gaya folk bahkan post-rock.Leonardo pun mampu menata timbre vokalnya sesuai karakter lagu.
Sebuah penampilan yang memperkaya khasanah musik pop Indonesia yang kerap dikritik berwarna seragam belakangan ini.

Album solo Leonardo "The Sun" rilisan Demajors 2010 (Foto Denny Sakrie)

Album solo Leonardo “The Sun” rilisan Demajors 2010 (Foto Denny Sakrie)

Dengan suara yang agak diberatkan ,bagi saya Leonardo tengah dirasuki Leonard Cohen.Entah itu sadar maupun nggak sadar.Setidaknya itu yang mendera pikiran saya saat menyimak track penguak yang diberi tajuk “Insecure”.Lagu ini bahkan sedikit dilumuri suara trumpet.Ah,jangan jangan ini korelasi trumpet yang ditiup Leonardo pada cover albumnya ?.Lagu ini tampaknya dibumbui sepercik zat adiktif.Karena saya merasa tersihir dan ketagihan ingin menyimak track-track lainnya.Ada endapan masa lalu yang tercerabut pada hulu introduksi yang sekarang kerap menjadi sesuatu yang nyeleneh.Mungkin karena begitu jarangnya pemusik kita yang mengupayakan ritual semacam ini.Ada seraut bunyi chamber yang melipat sisi sisi pola arransemennya.Ini menarik.Seperti sebuah kunjunagn terhadap kredo musik yang natural.Lebih alami.

Upacara musikal yang dipentang Leonardo berlanjut di track kedua “Wonderous Sky”.Terdengar agak bergumam.Sebuah gumam yang kerap saya denger dalam beberapa lagu David Bowie atau Peter Gabriel pasca Genesis.Aura lelaki arif mencuat dari ekspresi Leonardo kata per kata yang dimusikalisassikannya itu.Saya harus menggaris bawahi pola permainan piano Dharmo Sudirman di lagu ini.

Dan yang membuat saya terperanjat adalah mengemukanya anasir choir pada lagu “Light Over Me”.Beberapa waktu lalu saya terperangah menyimak untaian choir yang diperdengarkan Peter Gabriel dalam album terbarunya “Scratch My Back”.Bagi saya choire adalah core sebuah konstruksi lagu yang mampu menstimulasi kendali berfikir kita saat menikmati alunan musik.Choir laksana punya efek kejut.Kartika Jahja yang lebih tenar dengan nama Tika & The Dissidents adalah choir director yang memberi sentuhan personal dibalik vokal Leonardo.Mau tahu siapa yang berada dibalik choir itu.Selain Tika,ternyata ada “the man form the past” David Tarigan serta dua bersaudara Tiara dan Meuthia.
Leonardo terlihat ingin meraih sentuhan artistik yang personal dalam busana lagu yang disajikannya di album ini.Dia seperti berbinar menyusupkan bunyi-bunyian masa lalu yang classy.
Silakan simak era keemasan swing big band pada lagu “Midnight Hooray” yang diimbuh petikan gitar elektrik yang meliuk ke pola blues.
Penafsiran atas tema yang dijejalkan mungkin yang patut lebih diasah oleh Leonardo.Karena sebetulnya Leonardo memiliki fleksibiltas dalam produksi bunyi vokalnya itu sendiri.Ini adalah sebuah kelebihan yang bisa dikembangkan lebih jauh lagi.
Dan saya masih tetap menantikan,apakah Leonardo memberi peluang untuk menuliskan dan menyanyikan lagu-lagu karyanya dalam bahasa Indonesia.

Denny Sakrie
0818417357

Suara dan Doa Wiwiek Lismani

Pertamakali mendengar suara Wiwiek Lismani yaitu di album Dasa Tembang Tercantik LCLR Prambors 1980.Saat itu dengan suaranya yang mezzosopran berduet dengan bagoes A.Ariyanto dalam lagu Maheswara.Sebagai nama baru dalam industri musik Wiwiek cukup memikat perhatian.Setidaknya diantara karakter vokal Berlian Hutauruk dan Louise Huatauruk yang telah memiliki nama,Wiwik menyimpan harapan tersendiri.Apalagi tampaknya dia interes dengan lagu-lagu pop yang cenderung jazzy.

Kaset Wiwiek Lismani - Suara dan Doa (Sky Record 1983)

Kaset Wiwiek Lismani – Suara dan Doa (Sky Record 1983)

Wiwiek tak terlalu mengumbar melisma yang tak penting.
Kedua kali suara Wiwiek Lismani terdengar lagi di saat ikut mendukung album “Hotel San Vicente” yang dibentuk Fariz RM di tahun 1981.
Tak lama berselang Wiwiek Lismani merilis album solo.
Di album ini Wiwiek didukung oleh pemusik yang tergabung dalam Drakhma,Transs dan The Rollies.
Musiknya mungkin lebih tepat disebut adult contemporary pop.Arransemennya tampak berlenggang diantara wilayah pop dan jazzy.
Tak heran,karena penata musik dan pendukung musiknya antara lain ada Dodo Zakaria (keyboards),Jimmie Manopo (drums),Oetje F Tekol (bass),Djundi Karjadi (synthesizers) dan Uce Haryono (drums).
Arransemen musiknya memang tidak simple.Penuh sinkopasi serta progresi akord yang lebih luas dan kaya.
Simak saja introduksi lagu “Hari Bahagia” yang memperdengarkan harmonisasi antara trombone,vibraphone dan elusan bass yang membawa kita pada aura musik jazz.Beat samba pun terdengar.
Ungkapan jazzy itu pun terlihat jelas pada lagu-lagu karya Dian Pramana Poetra maupun Eddy Harris.
Sayangnya album ini memang tak berhasil mencuat.Bahkan banyak ornag yang tak tahu akan rilis album ini.

Track List :

01. SUARA DAN DOA (cipt. Jundi V.K. / Deddy Dhukun)
02. HARI BAHAGIA (cipt. Bambang BRT)
03. SALAMKU (cipt. Dian Pramana Poetra)
04. SEIA SEKATA (cipt. Dian Pramana Poetra)
05. DI ATAS SEGALANYA (cipt. Deddy Dhukun)
06. DEWI MALAM (cipt. Bambang BRT)
07. BUNGA ASMARA (cipt. Deddy Dhukun)
08. KHAYAL DAN KENANGAN (cipt. Eddy Haris)
09. KUSADARI YANG TERJADI (cipt. Deddy Dhukun)
10. HARAPAN YANG PUNAH (cipt. Eddy Haris)

Titi Menghidupkan Diana

Diana (Nasution) memang bukan Rihanna,seperti yang dicelutuki rapper J-Flow dalam lagu “Dasar Lelaki” karya almarhum Melky Goeslaw dalam album “Titi To Diana” nya Titi DJ.Tapi Diana Nasution adalah vokalis pop Indonesia berkarakter kuat yang memiliki sederet hits pada dekade 80-an.Dan menjadi sah sah saja ketika Titi DJ berupaya menghidupkan Diana Nasution lewat 7 lagu yang pernah dinyanyikan Diana dengan lantang pada dekade silam itu.
Lagi lagi sebuah album tribute.Sebuah remake atas karya karya lama yang diungkap dalam industri rekaman yang kian terpuruk dalam sektor penjualan fisik.
Banyak yang suka mencibir jika seorang artis penyanyi melakukan remake atau recycles atau apalah istilahnya.Kadang dituding tidak kreatif lagi.Bahkan yang parah dianggap sudah pudar karir musiknya.Aapalgi jika si artis sudah masuk kategori mulai “berumur”.
Ketika terbetik kabar bahwa salah satu dari Di3va yaitu Titi DJ akan meremake lagu-lagu yang pernah dipopulerkan Diana Nasution di era 80-an,banyak yang pesimis.Apalagi karakter vokal Titi DJ dan Diana Nasution memang laksana antara langit dan bumi.

Album Titi To Diana (Foto Denny Sakrie)

Album Titi To Diana (Foto Denny Sakrie)

Bahkan ketika ada upaya Titi DJ merangkul Diana Nasution untuk ikut menyanyikan Jangan Biarkan karya Hanny Tuheteu,tak sedikit yang meragukannya termasuk saya.Karena saya sendiri tahu persis qua vokal Diana Nasution berikut emphasisnya yang jelas sangat bertolak belakang dengan timbre vokal Titi DJ.Pun dari sisi mazhab musik,baik Titi dan Diana berada di dua kutub musik pop yang berbeda.
Diana Nasution sendiri pun ikut meragukan kemungkin berbaurnya vokal Titi dan dia dalam sebuah harmonisasi yang selaras.Tapi ingat seorang Pavarotti pun pernah mengalami hal yang sama saat berduet dengan jawara blues BB King maupun Bono dan Sting misalnya.
Walaupun tetap tak padu secara warna,namun sesuatu yang kontras pun bisa dianggap sebuah harmoni.Itu pula yang berlangsung pada duet Titi DJ dan Diana Nasution di track no.1 album yang dirilis Trinty Optima ini.
Dalam lagu “Benci Tapi Rindu”,suami Titi gitaris Ovy /rif menyusupkan gaya rock ballad yang bernuansa eighties rock.Sebuah formula cerdik.Karena sesungguhnya lagu “Benci Tapi Rindu” dalam vewrsi orisinal memiliki pola blues rock.Pada lagu “Hapuslah Sudah” terasa nuansa musik gospel melalui arransemen choirnya.Sayangnya terdengar kurang tebal.Andi Rianto bahkan menorehkan kesan grand secara orkestral lewat lagu “Malam Yang Dingin” yang dulu dipopulerkan duet Melky Goeslaw dan Diana Nasution.
Ada 7 lagu yang pernah dinyanyikan Diana Nasution yang diremake Titi DJ seperti “Jangan Biarkan”(Hanny Tuheteru),”Benci Tapi Rindu”(Rinto Harahap),”Hapuslah Sudah” Rinto Harahap),”Sengaja Aku Datang”(Rinto Harahap),”Malam Yang Dingin” (Minggoes Tahitoe),”Dasar Lelaki” (Melky Goeslaw) dan “Aku Tak Tahan Lagi” (Rinto Harahap).
Para juru rias musik seperti Ovy,Andi Rianto dan Yudhis Dwikorana bersumbangsih menata album ini menjadi beragam genrenya.Mulai dari pop rock,R&B dan classy orkestral.
Titi DJ telah melakukan kerja mulia,mendokumentasikan sebagian dari karya musik pop dari amnesia sejarah musik pop yang kerap menggerogoti.

Renny Djajoesman Menyanyikan Karya Karya Harry Roesli

Publik lebih mengenal Renny Djajoesman sebagai insan teater yang telah khatam dalam berbagai pertunjukan teater baik di panggung maupun layar TVRI.Kemampuan akting Renny tak diragukan lagi, apalagi Renny saat masih terikat sebagai pasangan suami isteri dengan Putu Widjaja, kerap tampil dalam pementasan teater dari Teater Mandiri yang dibentuk seniman asal Bali Putu Widjaja.

Kaset Renny Djajoesman menyanyikan lagu-lagu karya Harry Roesli (Foto Denny Sakrie)

Kaset Renny Djajoesman menyanyikan lagu-lagu karya Harry Roesli (Foto Denny Sakrie)

Namun ternyata,Renny Djajoesman yang kerap menggunakan berbagai pernak-pernik aksesoris itu disekujur tubuhnya itu memiliki kemampuan bernyanyi.Ini dilihat oleh Harry Roesli, yang saat itu kerap bekerjasama dengan insan-insan teater diantaranya dengan Putu Widjaja.

Akhirnya disepakatilah Renny Djajoesman menyanyikan lagu-lagu karya Harry Roesli dalam bentuk kaset.Renny Djajoesman dengan suaranya yang khas menggelegar kemudian menyanyikan karya-karya monumental Harry Roesli di era paruh 70an seperti Saya Menjurus Ke Bumi hingga L.T.O (Lima Tahun Oposisi). Penampilan Renny Djajoesman diiringi oleh Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB), band yang dibina Harry Roesli.

Badai Pasti Berlalu (1977)

Album dengan sampul didominasi warna hijau dan menampilkan aktris Christine Hakim tengah berlari ini merupakan album yang tak pernah lekang ditelan zaman, Badai Pasti Berlalu, tahun 2007 ini genap 30 tahun. Album yang digarap Eros Djarot bersama Yockie Soeryoprayogo (arranger/ kibor/drum), Chrisye (bas/vokal), Debby Nasution (kibor/ komposer), Berlian Hutauruk (vokal), Keenan Nasution (drum), dan Fariz RM (drum)  pada tahun 1977 .

Apa yang membuat album ini istimewa? Kehadirannya memang pada saat yang tepat, saat industri musik tengah booming dengan lagu-lagu pop yang pada zamannya sering diledek sebagai pop cengeng atau pop kacang goreng.

Lagi pula, pada saat itu sebuah grup musik yang tengah berjaya diperas habis-habisan kreativitasnya oleh perusahaan rekaman yang menaunginya untuk produktif mencetak album.

Korban pun  berjatuhan, di antaranya Koes Plus yang akhirnya terjebak dalam pola musik yang sama dan tak pernah berubah.   Peluang itu lalu diisi BPB, album yang dibuat mengikuti rilis film berjudul sama yang digarap mendiang Teguh Karya dari novel karya Marga T. Sebetulnya BPB tak diperhatikan orang. Namun, setelah stasiun-stasiun radio memutarnya terus-menerus, album ini langsung jadi pembicaraan khalayak.   Dan memang ada atmosfer yang beda jika menyimak album ini. Eros sebagai pengarah musik menampilkan nuansa yang terasa berbau Eropa. Lihatlah betapa instrumen kibor mendominasi tata musiknya. Eros bahkan menampilkan torehan lirik lagu yang romantis tanpa terjebak dengan pola-pola yang standar: patah hati berkepanjangan, meratap-ratap, dan cengeng.   Alhasil, dengan nuansa yang terasa beda, Eros bisa dianggap berhasil. “Padahal, enggak ada niat yang muluk-muluk ketika membuat album ini. Saya bersenandung, lalu Yockie dan Chrisye mengimbuhkan musiknya. Sangat sederhana, hampir
tidak istimewa,” ujar Eros awal September 2006.   Menurut Eros, album ini lahir setelah pembuatan music score BPB bersama dukungan tata musik Yockie. “Ide dasar semuanya datang dari Eros. Padahal, ia justru tak terampil memainkan alat musik. Eros menyenandungkan melodi, lalu saya dan Chrisye mencari akor-akornya,” ungkap Yockie.   Lalu, ketika menggarap kasetnya bertambahlah jumlah repertoar seperti Cintaku (Eros/Debby), Merepih Alam (Eros/ Chrisye), Semusim (Eros/Debby), Serasa (Eros/Chrisye), Khayalku (Eros/Debby), Pelangi (Eros/Debby), dan sebuah instrumental bertajuk E&C&Y. Lagu bercorak disko ini urung ditulisi lirik karena Chrisye menganggap sukar menyanyikannya.   Debby, yang pernah berkolaborasi dengan Eros menulis music score film Kawin Lari dan Perkawinan dalam Semusim, menjelaskan bahwa sebagian lagu yang terdapat dalam kaset BPB (Irama Mas) itu melodi dasarnya sebetulnya sudah pernah digunakan pada music score Perkawinan dalam Semusim (1976), seperti Angin
Malam, Semusim, Khayalku, Cintaku, dan Pelangi.   “Sayangnya, film itu memang kurang sukses di pasaran,” tutur Debby.

“Sebetulnya Teguh Karya membuat film BPB untuk mengambil hati produsernya karena Perkawinan dalam Semusim dianggap kurang laku dan berat,” ungkap Slamet Rahardjo, 4 Januari 2007.   BPB direkam di Studio Irama Mas dengan penata rekaman top Stanley dan menghabiskan waktu 21 hari serta dana sekitar Rp 2 juta. Menariknya, para pemusik yang terlibat dalam pembuatan album ini adalah mereka yang telah tenar dan bermain di beberapa grup rock, seperti Eros (Barong’s Band), Yockie (God Bless), Chrisye dan Keenan (Gipsy), serta Debby (Young Gipsy dan Barong’s Band).   “Beberapa melodi dari lagu Pelangi saya comot dari lagu instrumental Genesis, After the Ordeal,” ungkap Debby, yang menggemari pemusik klasik Johann Sebastian Bach. Bahkan, jika menyimak versi awal “Khayalku”, orang teringat pada komposisi instrumental Procol Harum bertajuk Repent Walpurgis.   Bahkan tak
jarang kita seolah menemukan kemiripan “Merpati Putih” dengan “Leonie” nya Arjan Brass.  Menariknya,lagu “Pelangi” dibuat dengan pengaruh arransemen musik ala “Baby What A Big Surprise” nya Chicago.Dan secara kebetulan Chrisye memiliki timbre yang mendekati Peter Cetera,mantan vokalis Chicago.Pengaruh Bob James dan Patrick Moraz tersimak pada karya instrumental “E&C&Y”.  Pengaruh semacam itu pun lumrah.  Perpaduan antara suara tenor Chrisye dan suara sopran Berlian Huaturuk menjadikan album ini bernuansa classy.  Sebuah album yang sangat inspiratif bagi musik pop Indonesia.

TRACK LIST

1.Pelangi

2.Merpati Putih

3.Matahari

4.Serasa

5.Khayalku

6.Angin Malam

7.Merepih Alam

8.Semusim

9.Baju Pengantin

10.E&C&Y (Instrumental)

11.Cintaku

12.Badai Pasti Berlalu

Kaset Badai Pasti Berlalu (Foto Denny Sakrie)

Kaset Badai Pasti Berlalu (Foto Denny Sakrie)

13.Merpati Putih (Instrumental)